NAMA :SATRIA DWI CAHYADI
PANGKAT : SERDA
NIM : 20190440 - E
NO. ABSEN :20
PERCOBAAN 6
RANGKAIAN MENGONTROL MOTOR UNTUK MENGENDALIKAN AZIMUT DAN ELEVASI
TUJUAN : AGAR
BAMASIS DAPAT MEMBUAT DAN MENGONTROL MOTOR UNTUK MENGENDALIKAN AZIMUT DAN
ELEVASI
1. ALAT DAN BAHAN :
A. NPN Transistor
B. RELAY
C. Motor DC
D. Switch
E. BATT
F. Live
Wire
2. DASAR TEORI :
A. Rangkaian Transistor NPN
Sebenarnya pada awal ditemukannya komponen transistor, fungsi yang
diaplikasikan adalah sebagai penguat amplifier suatu sinyal. Namun karena sifat
dan karakteristiknya, ternyata transistor juga bisa diaplikasikan sebagai
sebuah saklar dalam sebuah rangkaian listrik. Untuk itu, sebelum kita membahas
hal tersebut, saya akan mengajak teman-teman untuk merefresh dulu tentang
susunan dan cara kerja transistor. Perhatikan gambar dibawah ini. Kali ini saya
memberikan contoh jenis transistor NPN.
Pada transistor NPN, arus
yang berada pada kaki “Collector” hanya akan mengalir ke kaki “Emitor”
apabila ada sedikit saja arus atau tegangan yang menyuplai ke kaki
“Basis”.Secara sederhana, transistor bisa dianalogikan sebagai sebuah kran air.
Lihat gambar berikut .Saat ruangan B diberi tekanan air, maka akan mendorong
katup kran sehingga air dari ruangan C akan mengalir ke ruangan E. Dari
ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa besarnya nilai arus/tegangan yang
diberikan ke kaki “basis” juga dapat mengontrol nilai arus yang keluar ke
“Emitor”.Kembali pada pembahasan transistor sebagai saklar. Seperti yang
kita ketahui bahwa saklar adalah suatu komponen yang memiliki dua
keadaan yaitu on dan off. Pada
kondisi off arus tidak bisa mengalir karena terputus aliran
arusnya. Sedangkan pada kondisi on bisa mengalirkan arus
listrik. Dari perumpamaan transistor sebagai saklar pada gambar keran air
diatas, diketahui bahwa komponen transistor memiliki sifat / karakteristik
saklar. Ketika kaki “Basis” transistor tidak diberikan arus, tidak
ada arus emitor, berarti transistor dalam kondisi terbuka (saklar
off). Kalau arus basis yang diberikan cukup, maka
arus “Colector” akan mengalir ke kaki “Emitor” . Namun
bagaimana bila arus “Basis” yang diberikan lebih besar ? Inilah
yang disebut dengan kondisi saturasi. Jika arus pada basis transistor diberikan
lebih besar dari yang diperlukan oleh transistor untuk mencapai saturasi, maka
transistor berada dalam keadaan over saturation, tegangan kolektor-emitor
kecil (sekitar 0,2-0,3 Volt) dan itu berarti transistor berada dalam keadaan
saklar tertutup.
B. RELAY
Relay adalah Saklar (Switch) yang dioperasikan secara listrik dan merupakan
komponen Electromechanical (Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama
yakni Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal (seperangkat Kontak Saklar/Switch).
Relay menggunakan Prinsip Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar
sehingga dengan arus listrik yang kecil (low power) dapat
menghantarkan listrik yang bertegangan lebih tinggi. Sebagai contoh, dengan
Relay yang menggunakan Elektromagnet 5V dan 50 mA mampu menggerakan Armature
Relay (yang berfungsi sebagai saklarnya) untuk menghantarkan listrik 220V 2A.
Prinsip Kerja Relay
Pada dasarnya, Relay terdiri dari 4 komponen dasar yaitu :
1. Electromagnet (Coil)
2. Armature
3. Switch Contact Point
(Saklar)
4. SpringBerikut ini
merupakan gambar dari bagian-bagian Relay :
Kontak Poin (Contact
Point) Relay terdiri dari 2 jenis yaitu :
§
Normally Close (NC) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu
berada di posisi CLOSE (tertutup)
§
Normally Open (NO) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada
di posisi OPEN (terbuka)
Berdasarkan gambar
diatas, sebuah Besi (Iron Core) yang dililit oleh sebuah kumparan Coil yang
berfungsi untuk mengendalikan Besi tersebut. Apabila Kumparan Coil diberikan
arus listrik, maka akan timbul gaya Elektromagnet yang kemudian menarik
Armature untuk berpindah dari Posisi sebelumnya (NC) ke posisi baru (NO)
sehingga menjadi Saklar yang dapat menghantarkan arus listrik di posisi barunya
(NO). Posisi dimana Armature tersebut berada sebelumnya (NC) akan menjadi OPEN
atau tidak terhubung. Pada saat tidak dialiri arus listrik, Armature akan
kembali lagi ke posisi Awal (NC). Coil yang digunakan oleh Relay untuk
menarik Contact Poin ke Posisi Close pada umumnya hanya membutuhkan arus
listrik yang relatif kecil.
Arti Pole dan Throw pada Relay
Karena Relay merupakan
salah satu jenis dari Saklar, maka istilah Pole dan Throw yang dipakai dalam
Saklar juga berlaku pada Relay. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai
Istilah Pole and Throw :
§
Pole : Banyaknya Kontak
(Contact) yang dimiliki oleh sebuah relay
§
Throw : Banyaknya
kondisi yang dimiliki oleh sebuah Kontak (Contact)
Berdasarkan penggolongan
jumlah Pole dan Throw-nya sebuah relay, maka relay dapat digolongkan menjadi :
§
Single Pole Single Throw (SPST) : Relay golongan
ini memiliki 4 Terminal, 2 Terminal untuk Saklar dan 2 Terminalnya lagi untuk
Coil.
§
Single Pole Double Throw (SPDT) : Relay golongan ini
memiliki 5 Terminal, 3 Terminal untuk Saklar dan 2 Terminalnya lagi untuk Coil.
§
Double Pole Single Throw (DPST) : Relay golongan
ini memiliki 6 Terminal, diantaranya 4 Terminal yang terdiri dari 2 Pasang
Terminal Saklar sedangkan 2 Terminal lainnya untuk Coil. Relay DPST dapat
dijadikan 2 Saklar yang dikendalikan oleh 1 Coil.
§
Double Pole Double Throw (DPDT) : Relay golongan
ini memiliki Terminal sebanyak 8 Terminal, diantaranya 6 Terminal yang
merupakan 2 pasang Relay SPDT yang dikendalikan oleh 1 (single) Coil. Sedangkan
2 Terminal lainnya untuk Coil.
Selain Golongan Relay
diatas, terdapat juga Relay-relay yang Pole dan Throw-nya melebihi dari 2
(dua). Misalnya 3PDT (Triple Pole Double Throw) ataupun 4PDT (Four Pole Double
Throw) dan lain sebagainya. Untuk lebih jelas mengenai Penggolongan Relay
berdasarkan Jumlah Pole dan Throw, silakan lihat gambar dibawah ini :
Beberapa fungsi Relay
yang telah umum diaplikasikan kedalam peralatan Elektronika diantaranya adalah
:
1.
Relay digunakan untuk menjalankan Fungsi Logika (Logic
Function)
2.
Relay digunakan untuk memberikan Fungsi penundaan waktu (Time Delay Function)
3.
Relay digunakan untuk mengendalikan Sirkuit Tegangan tinggi dengan bantuan
dari Signal Tegangan rendah.
4.
Ada juga Relay yang berfungsi untuk melindungi Motor ataupun komponen
lainnya dari kelebihan Tegangan ataupun hubung singkat (Short)
C.
Motor DC
Motor DC
memerlukan suplai tegangan yang searah pada kumparan medan untuk diubah menjadi
energi mekanik. Bagian utama motor DC adalah statos dan rotor dimana kumparan
medan pada motor dc disebut stator (bagian yang tidak berputar) dan kumparan
jangkar disebut rotor (bagian yang berputar). Bentuk motor paling sederhana
memiliki kumparan satu lilitan yang bisa berputar bebas di antara kutub-kutub magnet permanen.Catu tegangan dc dari baterai menuju ke lilitan melalui sikat yang menyentuh komutator, dua segmen yang terhubung dengan dua ujung lilitan. Kumparan satu lilitan pada gambar di atas disebut angker dinamo. Angker dinamo adalah sebutan untuk komponen yang berputar di antara medan magnet.
Prinsip Dasar Cara
Kerja
Jika arus lewat
pada suatu konduktor, timbul medan magnet di sekitar konduktor. Arah medan
magnet ditentukan oleh arah aliran arus pada konduktor. Medan magnet yang
membawa arus mengelilingi konduktor dapat dilihat pada gambar berikut.
Pada motor dc, daerah kumparan medan yang dialiri arus listrik akan
menghasilkan medan magnet yang melingkupi kumparan jangkar dengan arah tertentu.
Konversi dari energi listrik menjadi energi mekanik (motor) maupun sebaliknya
berlangsung melalui medan magnet, dengan demikian medan magnet disini selain
berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan energi, sekaligus sebagai tempat
berlangsungnya proses perubahan energi,: Agar proses perubahan energi mekanik
dapat berlangsung secara sempurna, maka tegangan sumber harus lebih besar
daripada tegangan gerak yang disebabkan reaksi lawan. Dengan memberi arus pada
kumparan jangkar yang dilindungi oleh medan maka menimbulkan perputaran motor.
Prinsip Arah Putaran Motor
Prinsip Arah Putaran Motor
Untuk menentukan
arah putaran motor digunakan kaedah Flamming tangan kiri. Kutub-kutub magnet
akan menghasilkan medan magnet dengan arah dari kutub utara ke kutub selatan.
Jika medan magnet memotong sebuah kawat penghantar yang dialiri arus searah
dengan empat jari, maka akan timbul gerak searah ibu jari. Gaya ini disebut
gaya Lorentz, yang besarnya sama dengan F. Prinsip motor : aliran arus di dalam
penghantar yang berada di dalam pengaruh medan magnet akan menghasilkan
gerakan. Besarnya gaya pada penghantar akan bertambah besar jika arus yang
melalui penghantar bertambah besar.
5. PERCOBAAN RANGKAIAN
KIRI : AZIMUTH KANAN : ELEVASI
Pada rangkaian di atas kita coba switching
1 dan 2 masing masing ON dan OFF, dan dilakukan perbedaan Hambatan pada VR yaitu
10% s.d. 100% dan termasuk perubahan pada arah putaran motor juga berbeda
dengan kekuatan VR sebesar 100 Ohm masing asing Transistor dan Relay di hubungakan
dengan Ground jadi Kita akan menentukan apakah terjadi induksi magnetic pada
rangkaian di Relay 1 dan 2. Lalu apakah perputaran motor semakin cepat ketika VR
di naikkan menjadi 100%
6. ANALISA
NO.
|
VR
|
RELAY 1
|
RELAY 2
|
KETERANGAN
|
||
SWITCHING ON
|
SWITCHING OFF
|
SWITCHING ON
|
SWITCHING OFF
|
|||
1.
|
10%
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor Pelan
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor Pelan
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor Pelan
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor Pelan
|
Pada Setiap percobaan
terjadi Induksi Magnetic yang menyebabkan motor Bergerak Searah jarum jam maupun
berlawanan jarum jam
|
2.
|
20%
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor cukup pelan
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor cukup Pelan
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor cukup Pelan
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor cukup Pelan
|
Pada Setiap percobaan
terjadi Induksi Magnetic yang menyebabkan motor Bergerak Searah jarum jam maupun
berlawanan jarum jam
|
3.
|
30%
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor sedikit cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan sedikit cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan sedikit cepat
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan sedikit cepat
|
Pada Setiap percobaan
terjadi Induksi Magnetic yang menyebabkan motor Bergerak Searah jarum jam maupun
berlawanan jarum jam
|
4.
|
40%
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan sedikit cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan sedikit cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan sedikit cepat
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan sedikit cepat
|
Pada Setiap percobaan
terjadi Induksi Magnetic yang menyebabkan motor Bergerak Searah jarum jam maupun
berlawanan jarum jam
|
5.
|
50%
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan cukup cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan cukup cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan cukup cepat
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan cukup cepat
|
Pada Setiap percobaan
terjadi Induksi Magnetic yang menyebabkan motor Bergerak Searah jarum jam maupun
berlawanan jarum jam
|
6.
|
60%
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor cukup cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor cukup cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor cukup cepat
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor cukup cepat
|
Pada Setiap percobaan
terjadi Induksi Magnetic yang menyebabkan motor Bergerak Searah jarum jam maupun
berlawanan jarum jam
|
7.
|
70%
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor cepat
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor cepat
|
Pada Setiap percobaan
terjadi Induksi Magnetic yang menyebabkan motor Bergerak Searah jarum jam maupun
berlawanan jarum jam
|
8.
|
80%
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor cepat
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor cepat
|
Pada Setiap percobaan
terjadi Induksi Magnetic yang menyebabkan motor Bergerak Searah jarum jam maupun
berlawanan jarum jam
|
9.
|
90%
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor sangat cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor sangat cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor sangat cepat
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor sangat cepat
|
Pada Setiap percobaan
terjadi Induksi Magnetic yang menyebabkan motor Bergerak Searah jarum jam maupun
berlawanan jarum jam
|
10.
|
100%
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor sangat cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor sangat cepat
|
Arah Putaran Berlawanan
arah jarum jam kecepatan Motor sangat cepat
|
Arah Putaran Searah
jarum jam kecepatan Motor sangat cepat
|
Pada Setiap percobaan
terjadi Induksi Magnetic yang menyebabkan motor Bergerak Searah jarum jam maupun
berlawanan jarum jam
|
3. KESIMPULAN :
1. Pada
rangkaian Azimut dan Elevasi
semakin besar hambatan yang diberikan pada VR, semakin cepat juga Gerak motor berputar
semakin besar hambatan yang diberikan pada VR, semakin cepat juga Gerak motor berputar
2. Pada
rangkaian tersebut terbukti bahwa apabila yang di ON kan adalah SW 1 maka arah
putaran motor bergerak berlawanan arah jarum jam dan apabila di OFF kan maka
arah putaran motor bergerak searah jarum jam.
3. Pada
rangkaian tersebut terbukti bahwa apabila yang di ON kan adalah SW 2 maka arah
putaran motor bergerak searah jarum jam dan apabila di OFF kan maka arah
putaran motor bergerak berlawanan arah jarum jam.
4. Besarnya
hambatan pada VR juga berpengaruh terhadap gerak motor dan arah gerak motor
tersebut


Komentar
Posting Komentar